0

Memotivasi Diri

Author Nur Siswanto    Category ,

Apabila diperhatikan dalam kehidupan sehari-hari ada sebagian orang yang memiliki dorongan yang besar dalam mencapai keberhasilan sedangkan yang lain memiliki dorongan yang lemah. Sebagian orang menggantungkan motivator berasal dari luar dirinya, seperti : orang lain, uang, lingkungan. Artinya apabila ada orang yang memotivasi dirinya. Adanya imbalan nang dan lingkungan yang mendukung, maka ia akan bersemangat tetapi sebaliknya apabila tidak ada orang yang memotivasinya, imbaian uang yang sedikit atau lingkungan yang malas, maka orang tersebut tidak termotivasi. Hal tersebut terjadi disebabkan oleh penggantungan diri kepada motivator dari luar. Padahal keadaan tersebut tidak selalu terjadi. Sedangkan pada kenyataannya ia selalu bersama dirinya sendiri, yaitu ketika ia malas, ketika bersemangat. Tetapi ia tidak pernah beusaha memanfaatkan untuk memotivasi diri. Oleh karena itu, sebenarnya seseorang dapat memotivasi dirinya sendiri, dan senantiasa berusaha memunculkannya sendiri dengan memohon pertolongan kepada Allah. Jadi, kesimpulannya seseorang harus memacu semangat dirinya. Memperbaruinya agar tercipta kondisi yang relatif stabil, dan jangan membuang kesempatan untuk menunggu motivator dari luar.

Adapun motivator dalam diri seseorang dapat dibangun dengan pemikiran. Sedangkan pemikiran tersebut dapat dibangun dengan tiga hal, yaitu:
  1. Dorongan Materi
  2. Dorongan Moral
  3. Dorongan Keimanan

Dorongan yang pertama adalah dorongan materi yaitu yang dimaksud disini adalah kekayaan berupa harta benda. Sebagian besar buku-buku teori psikologi menggunakan dasar pemikiran yang mendorong seseorang agar bersemangat meraih keberhasilan adalah gambaran kesenangan yang akan diperoleh. Oleh karena itu bagi siapa saha yang ingin berhasil, maka ia harus memiliki pemikiran yang tepat dalam menghadapi kehidupannya. Adapun yang dimaksud pemikiran yang tepat harus dapat dibuktikan kebenarannya. Oleh karena itu tolok ukur keberhasilan seseorang dalam seluruh aspek kehidupannya adalah ketika seseorang memiliki kekayaan, jabatan dan kekuasaan memenuhi keinginannya. Karena hasil yang cukup jelas tersebut, maka banyak orang yang menggunakan motivasi materi untuk mendorong semangat hidupnya. Sebagai contoh adalah seseorang yang ingin mendapatkan kekayaan, maka ia mendorong agar seseorang tersebut berusaha agar target tersebut tercapai. Ia akan menentukan target gaji Rp. 500.000,- atau Rp. 1,5 juta perbulan. Ia akan merasa senang apabila target tersebut ia capai, walaupun dengan pengorbanan yang besar. Ia akan rela dengan segala kesulitan yang dihadapi, merasa tidak puas apabila lambat atau lemah dalam berusaha mencapainya. Dorongan ini akan semakin besar sebanding dengan target yang ditetapkan. Tetapi apabila materi yang dijadikan sebagai target tersebut telah tercapai, seringkali motivator materi ini menjadi lemah. Sehingga diganti dengan motivator yang lain.

Adapun dorongan yang kedua adalah dorongan moral. Yang dimaksud dengan dorongan moral adalah dorongan yang muncul dari seseorang karena nilai-nilai moral yang diyakininya. Nilai-nilai tersebut bisa berupa harga diri, kebanggaan, mempertahankan hidup, pengembangan diri yang harus dicapai atau dimiliki. Misalnya seseorang yang menggunakan nilai mengembangkan diri, maka ia akan selalu berusaha agar mengembangkan kemampuan dirinya sehingga ia merasa puas dengan usaha yang dia lakukan tersebut. Dalam hal ini ia merasa terdorong oleh keinginan agar selalu berkembang terus dan merasa ddak puas apabila ia tidak melakukan pengembangan diri. Motivasi ini tidak terlalu mendasarkan pada keuntungan materi yang ia peroleh, akan tetapi kepuasan batin atas pelaksanaan atau pencapaian atas moral. Sehingga jumlah materi yang diperoleh tidak terlalu mempengaruhi semangat aktivitasnya. Motivator ini lebih lama dan lebih kuat dari dorongan yang pertama. walaupun tetap menggantungkan pada kemampuan diri seseorang. Lebih lagi apabila nilai moral yang ingin dicapai itu telah terwujud, maka motivator ini juga menjadi lemah dan harus digantikan dengan target yang lain.

Adapun dorongan yang ketiga adalah dorongan keimanan. Memang hal ini jarang sekali disinggung oleh buku-buku psikologi modern. Mungkin bisa kita cari buku yang bertemakan iman sebagai pendorong keberhasilan hidup, tentu lebih sedikit bila dibandingkan dengan buku-buku yang bertemakan materi dan nilai moral sebagai motivator dalam beraktifitas. Keimanan sebagai pendorong aktivitas harus lahir dari sebuah pemikiran dalam membangunnya. Artinya seseorang dalam meyakini adanya Allah berasal dari proses berpikir yang akhirnya meyakini adanya Allah, Seseorang merenungkan sifat-sifat Allah, kemudian meyakininya. Setelah itu kehidupannya dijalani berdasarkan pedoman yang sudah dijelaskan oleh Islam. Karena itu ia memiliki dorongan yang kuat atas keimanan. Hal ini bukan dorongan perasaan saja tetapi didorong secara kuat oleh pemikirannya untuk bergerak melakukan sesuatu. Misal: Seorang suaini yang memahami sabda Rasulullah "Sesungguhnya ada dosa yang tidak terhapus hanya dengan istighfar. Lalu para sahahat bertanya "dengan apa yaa Rasulullah?”, “dengan berusaha mendapatkan nafkah keluarga". Hal tersebut mendorong seorang kepala keluarga untuk bersemangat mencari nafkah untuk keluarganya dengan sekuat tenaga. Atau dalam sabda Beliau Saw yang lain, "Sesungguhnya Allah mewajibkan kalian untuk berusaha, maka berusahalah!" (HR Muslim). Dan juga dalam sebuah ayat "Faidzaa farahtafanshab", kemudian apabila kamu selesai pada suatu pekerjaan, maka kerjakanlah yang lain. Hal diatas merupakan perintah yang tegas mengenai wajibnya berusaha. Seorang muslim maka memahami wajib hukumnya untuk berusaha karena kataatannya kepada Allah. Tapi apabila perintah-perintah tersebut tidak membuat terdorong, maka yang menjadi masalah adalah keimanan itu sendiri yang harus diperkokoh. Kelebihan dari motivator ini adalah tidak menggantungkan semua masalah pada diri seseorang dan motivator akan tetap kuat selagi keimanan itu kuat. Dan target tersebut yaitu ridho dari Allah tidak akan pernah selesai dalam suatu waktu, tetapi akan tetap ada terus selagi ia masih hidup. Maka apabila keimanan seseorang selalu kuat, maka motivator ini akan tetap ada hingga akhir hidup seseorang.
---

Post comment